Wednesday, December 7, 2011

Tanaman Transgenik: Bagaimana Kita Menyikapinya ?

Agricultural Engineering - Introduksi tanaman transgenik atau produk pangan yang dihasilkannya perlu dievaluasi dengan hati-hati sebagaimana yang dilakukan pada proses pelepasan sejumlah varitas tanaman atau pemasaran produk pangan baru. Peraturan yang dibuat untuk evaluasi seharusnya diambil berdasarkan data ilmiah yang memadai, atau berdasarkan pertimbangan rasional yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, sehingga peraturan tersebut tidak hanya melindungi konsumen dari bahaya nyata, tetapi juga memungkinkan konsumen untuk memanfaatkan produk transgenik dan teknologi yang mendasarinya secara maksimal. 


Tanaman transgenik menjanjikan potensi keuntungan bagi pelaku agribisnis, namun di sisi lain memberikan gambaran suram bagi pemerhati lingkungan karena ternyata ada bahaya ekologis yang patut menjadi perhatian semua pihak.

Yang dimaksud dengan tanaman transgenik adalah tanaman hasil rekayasa genetika dengan upaya pemanfaatan bioteknologi. Dengan demikian, tanaman transgenik mengandung gen (pembawa sifat tanaman) yang berasal dari luar tanaman yang secara sengaja dan terencana dipindahkan dengan teknologi canggih tersebut. Gen yang dipindah- kan bisa berasal dari binatang, tanaman atau tumbuhan, bakteri, virus dan lain-lain.

Hingga saat ini gen yang dianggap dapat memperbaiki sifat tanaman yang diinginkan sudah berhasil dipindahkan (genetic modified and transferred) dan menghasilkan tanaman baru yang lebih baik.

Pemanfaatan tanaman transgenik merupakan sebuah peluang karena dapat meningkatkan produksi tanaman pangan.

Dengan demikian pemanfaatan tanaman transgenik berupa faktor pengungkit (leverage) pada peningkatan produksi tanaman yang cenderung melandai atau leveling off. Namun di sisi lain ada pro kontra terhadap pemakaian tanaman transgenik ini. Pro kontra terjadi pada aspek keamanan dan mutu pangan transgenik dan pada aspek kelestarian lingkungan mengingat adanya bahaya ekologis dan ancaman keamanan pangan yang membahayakan kesehatan manusia atau binatang yang mengonsumsi makanan yang berasal dari tanaman transgenik.

Perkembangan

Kecepatan memproduksi tanaman transgenik di dunia sangat signifikan. Perkembangan dapat digambarkan oleh negara Amerika Serikat yang pada tahun 2000 baru menghasilkan 24 jenis, dan tahun 2003 sudah lebih dari 30 jenis tanaman transgenik yang dipasarkan. Di seluruh dunia pada tahun 2002 ada empat tanaman transgenik utama yang berkembang pesat, yaitu kedelai mencakup 36% dari 72 juta ha pertanaman; tanaman kapas meliputi 36% dari 34 juta ha, tanaman kanola meliputi 11% dari 25 juta ha dan jagung meliputi 7% dari 140 juta ha.

Berdasarkan total areal tanam transgenik di dunia, tanaman kedelai menduduki tempat pertama dengan mencapai areal 25,8 juta hektare, diikuti dengan jagung Bt yang tahan ulat penggeret, kemudian kanola yang tahan herbisida, dan jagung yang tahan herbisida, kapas yang tahan herbisida dan kemudian kapas Bt yang tahan hama penggerek serta tahan herbisida.

Mulai tahun 1996 tanaman transgenik mewarnai perdagangan pangan internasional. Pangsa pasar tanaman transgenik yang praktis nol pada tahun 1996, karena baru direkayasa, dua tahun kemudian telah berhasil menguasai pasar 30% untuk tanaman utama (jagung, kedelai dan kapas) di Amerika Serikat. Nilai perdagangan benih transgenik meningkat 3.000% di seluruh dunia dalam lima tahun terakhir. Sebanyak dua belas negara di dunia telah mengadopsi tanaman transgenik untuk ditanam dalam skala komersil yaitu Amerika Serikat, Argentina, Kanada, Cina, Australia, Afrika Selatan, Meksiko, Spanyol, Prancis, Portugal, Rumania dan Ukraina. Sementara itu Brasil dan India telah melakukan perdagangan tanaman transgenik mulai tahun 2002 yang diikuti oleh Malaysia dan Filipina. Di Indonesia tanaman transgenik sudah mulai diperkenalkan kepada petani, yaitu tanaman kapas transgenik, walaupun masih dalam skala pengkajian.

Jika kecenderungan peningkatan luas budidaya tanaman transgenik tidak berubah, diperkirakan sekitar lima tahun ke depan 60% perdagangan pangan utama di dunia adalah hasil dari tanaman transgenik. Bioteknologi sudah berhasil pula diterapkan untuk tanaman utama di dunia, yaitu padi dan gandum. Saat ini telah memasuki tahapan pengembangan dan dua tahun ke depan kemungkinan akan memasuki tahap komersialisasi.

Tanaman transgenik menjanjikan potensi keuntungan bagi pelaku agribisnis, namun di sisi lain memberikan gambaran suram bagi pemerhati lingkungan karena ternyata ada bahaya ekologis yang patut menjadi perhatian semua pihak.

Beberapa risiko ekologis tanaman transgenik antara lain: Pertama, saat penyebaran benih transgenik akan terjadi transfer gen horizontal melalui penyerbukan (polinasi) yang tidak dapat terkontrol, misalnya benih dimakan burung, serbuksari terbawa angin atau tanpa sengaja benih terbawa alat transportasi yang lintas negara. Hal ini akan menimbulkan kontaminasi genetik yang tidak dapat terkendali.

Kedua, penggunaan tanaman dapat menimbulkan risiko guncangan ekologis akibat ketidakseimbangan antara musuh alami (predator) dengan hama tanaman. Hal ini sangat besar kemungkinannya untuk terjadi karena penggunaan tanaman transgenik sangat mempengaruhi tritrophic system yaitu tanaman transgenik sebagai tanaman yang resisten hama (contoh jagung Bt, kapas Bt), insekta pengganggu (hama tanaman) sebagai second trophic level, dan parasit atau predator sebagai third trophic level. Sistem alamiah ini akan pasti terganggu akibat pemakaian tanaman transgenik secara besar-besaran. Interaksi dari ketiga subsistem itu akan beragam, dapat menguntungkan, merugikan, atau netral.

Penelitian mengenai hal ini diperlukan agar perdebatan mengenai dampak tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa pengaruh Bt-transgenik menyebabkan penurunan populasi hama dan juga penurunan populasi musuh hama (predator). Namun demikian diberitakan bahwa penanaman kapas Bt dalam skala penelitian terbukti menurunkan sedikit populasi insekta yang berguna karena musuh alami tersebut masih memperoleh makanan dari tanaman yang tidak ditanami kapas Bt-transgenik. Pengaruhnya akan nyata apabila sudah dikembangkan dalam skala komersial.

Negara yang melakukan penanaman komersial dari tanaman transgenik biasanya melakukan analisa keamanan pangan termasuk konsekuensi langsung (kajian nutrisi, efek alergi dan keracunan) atau tidak langsung (efek baru yang tidak dinginkan dari transfer gen itu serta pengaruhnya terhadap metabolisme tanaman). Sekarang telah dikembangkan suatu solusi yang baik dengan cara pendekatan substantial equivalence yaitu membandingkan pangan transgenik dengan tanaman pangan konvensionalnya.

Apabila keduanya sama-sama memiliki status nutrisi yang sama (walaupun tidak identik sama) serta sama-sama tidak memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan maka pangan transgenik tersebut aman dikonsumsi. Ini yang perlu dilakukan secara lebih intensif, bukan hanya melakukan uji laboratorium terhadap produk olahan yang ada di pasar untuk diteliti apakah produk olahan itu mengandung tanaman transgenik atau tidak.

Kekhawatiran terhadap risiko tanaman transgenik ini perlu mendapat perhatian serius, karena sebagai produk teknologi baru, risiko jangka panjangnya belum diketahui. Para ilmuwan tidak dapat mengatakan secara pasti bahwa suatu produk 100% aman karena sekecil apa pun risiko akan tetap ada.

Analisis risiko lingkungan untuk memantapkan adopsi terhadap tanaman transgenik perlu dilakukan. Sebagai contoh, analisa ini dilakukan untuk mengkaji dampak penanaman kapas transgenik (kapas transgenik Bollgard produksi Monsanto) yang diuji-coba pengembangannya di Sulawesi Selatan. Hasil kajian perguruan tinggi di Indonesia (antara lain Universitas Gadjah Mada dan Universitas Hasanuddin) menghasilkan analisa risiko lingkungan sebagai berikut: Pertama, analisis mikrobiologi, fisiologi dan genetika molekular untuk mengetahui pengaruh kapas Bollgard terhadap mikroorganisme dan sejumlah biota tanah menunjukkan bahwa pengaruh kapas Bollgard tidak berbeda dengan kapas biasa (non Bt).

Kedua, analisis ketahanan terhadap antibiotik dan genetika molekular menunjukkan bahwa frekuensi transfer gen dari daun kapas Bollgard pada bakteri tanah Aconetobacter calcoaceticus ADP1 tidak dapat dideteksi dalam percobaan tersebut. Ketiga, penelitian terhadap jumlah kelimpahan jenis dan populasi arthropoda bukan sasaran pada kapas Bollgard relatif sama dengan kapas nontransgenik.

Keempat, resistensi hama Helicoverpa armigera terhadap kapas Bollgard belum terlihat secara nyata pada tahun 2001 dan ini sebagai dasar acuan pendeteksian dini resistensi seterusnya.

Pemerintah telah mengambil sikap pro dengan penuh kehati-hatian dalam pengembangan tanaman transgenik di Indonesia. Tanaman transgenik yang akan dilepas di Indonesia hendaknya telah secara teruji melalui penelitian dan pengembangan yang baik, terencana, dan berkelanjutan.

Kehati-hatian perlu diterapkan dengan sangat baik karena di balik peluang ada risiko. Pengambilan keputusan untuk mengembangkan tanaman transgenik di berbagai daerah perlu dilakukan melalui proses penelitian dan pengembangan yang terpadu antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku bisnis, LSM, swasta, dan masyarakat.

Langkah-langkah untuk mendukung posisi tersebut adalah mengembangkan aspek legal (peraturan perundangan yang berlaku), mengembangkan kelembagaan pangan dan stake-holders pendukungnya, mengembangkan fasilitas peralatan, penelitian dan pengembangan, dan melakukan upaya pencerahan masyarakat (public awareness).

sumber : situshijau.com






No comments:

Post a Comment