Wednesday, December 7, 2011

Membersihkan Logam Berat Tanah dengan Sawi

Agricultural Engineering - Tanaman sawi India yang telah dimodifikasi secara genetis, terbukti mampu menyerap kelebihan unsur logam berat selenium dari tanah. Ini adalah pertama kalinya dilakukan uji coba lapangan terhadap tanaman transgenik pengusir polusi logam
Tanaman sawi India yang telah dimodifikasi secara genetis, terbukti mampu menyerap kelebihan unsur logam berat selenium dari tanah. Ini adalah pertama kalinya dilakukan uji coba lapangan terhadap tanaman transgenik pengusir polusi logam, dan diharapkan teknologi ini bisa membersihkan lahan di masa mendatang.
Perlu diketahui, tanah-tanah pertanian di beberapa bagian California, AS, mengalami pencemaran logam berat akibat air yang mengandung selenium. Ketika air menguap dari tanah, maka konsentrasi selenium yang tertinggal menjadi terlalu tinggi, bahkan bagi tanaman. Namun sawi India (Brassica juncea) memiliki kekebalan alami terhadap unsur ini, dan mampu menyerapnya lewat akar.

"Sawi India mampu tumbuh cepat walau berada di lingkungan yang penuh tekanan," kata Norman Terry, ahli biologi tumbuhan dari University of California, Berkeley, yang memimpin study ini. Karena kemampuan itu para ilmuwan memilihnya sebagai tanaman percobaan. Mereka meningkatkan kemampuan menyerap racun pada sawi dengan menambahkan gen ekstra yang menghasilkan enzim-enzim yang "lapar" akan selenium.

Dalam uji cobanya, para peneliti menemukan bahwa tanaman transgenik mampu mengumpulkan sekitar 4,3 kali selenium dibanding tanaman sawi India biasa. Riset ini dipublikasikan secara online dalam Environmental Science & Technology.

Untuk mencari strain terbaik, para ilmuwan menciptakan tiga jenis sawi transgenik berbeda, yang masing-masing menghasilkan enzim berbeda untuk menghilangkan selenium dari tanah. Ketiganya diuji pada lahan terkontaminasi selenium, bersama-sama dengan sawi liar.


Hasilnya, tanaman transgenik menunjukkan pertumbuhan 80 persen di tanah beracun, sedang sawi liar hanya bisa tumbuh setengah dari ukuran sebenarnya akibat selenium. Tanaman-tanaman ini dipanen setelah 45 hari, walau para peneliti yakin pertumbuhan yang lebih lama mampu membersihkan lebih banyak selenium dari tanah. Mereka memperkirakan tanaman secara efektif bisa menyerap sekitar 4,4 persen selenium di lapisan atas tanah setebal 25 cm.

Selama ini penanganan bahan kimia beracun dalam tanah masih memanfaatkan proses berteknologi rendah. Kebanyakan orang hanya menggali lapisan beracun dan menimbunnya di tempat lain atau dengan cara mencuci tanah. Cara ini cenderung mahal dan kurang efektif. "Selain merusak lingkungan, tanah yang tertinggal juga berkualitas rendah," kata Clayton Rugh, ahli biologi dari Michigan State University di East Lansing.

Nah, penggunaan tanaman untuk membersihkan bahan kimia yang tidak diinginkan dari tanah - dikenal sebagai phytoremediation - berpotensi jauh lebih murah, namun butuh waktu lama. Lamanya waktu itu bisa diakali dengan modifikasi genetis pada tanaman, walau sesungguhnya tanaman non-transgenik seperi paku-pakuan Cina (Pteris vittata) sudah bisa dipakai membersihkan logam berat arsenikum dari tanah.

Meski demikian, percampuran antara tanaman transgenik dengan tanaman pangan sebaiknya dihindarkan, karena kemampuannya menyerap racun akan berbahaya bila masuk dalam makanan. Artinya tanaman yang dipakai untuk membersihkan lahan sebaiknya tidak dijadikan bahan makanan.

Tetapi dalam kasus tertentu, sawi India bisa diberikan pada ternak yang membutuhkan selenium dalam makanan mereka dalam batas-batas tertentu. Yang jelas para ilmuwan kini sedang berusaha meningkatkan kemampuan tanaman rekayasanya itu. "Kami ingin meningkatkan kemampuan membersihkan lahannya 10 hingga 100 kali tanaman aslinya," kata Terry. "Dan hasil yang kami capai sekarang merupakan permulaan yang baik."


sumber : situshijau.com

No comments:

Post a Comment